Rabu, 12 Juli 2017

Aku Tunggu Kamu Disini



Baru hari kesebelas bulan ini
Langit terang benderang lagi
Musim panas berlalu lebih cepat
Ganti musim hujan yang merapat

Ini purnama kelima kita, Tuan
Bersih rupanya tidak berawan
Bulatnya memang belum sempurna
Namun putihnya tiada bernoda

Ini purnama kelima kita, Tuan
Dan kita bertengkar?
Dengan nada bicara yang tanpa gentar
Kita berteriak saling bercakar

Ini purnama kelima kita, Tuan
Tahukan kau, Tuan?
Pernah kau hitung?
Tak sempatlah mungkin kau menghitung
Karena egomu sepenting jantung

Aku tunggu kamu disini, Tuan
Masih kulihat purnama yang berjalan
Pelan...
Melintasi awan
Bertanya padaku perlahan
Menunggu siapa?
Menunggu Tuan, jawabku ragu.


Sintang, 09 Juli 2017
Teruntuk lelaki berego setinggi Mount Everest

Minggu, 09 Juli 2017

Sudahlah, Sudahlah






Hari ini tidak ada mentari yang memecah
Mendung sedari pagi
Mungkin karena kau yang sedang marah-marah
Menggerutu penuh emosi

Tadi malam hujan tidak berampun
Rintiknya deras tidak menurun
Kuyakin kau berbaring dengan santun
Tersenyum bagai bara unggun.

Kau marah?
Sudah kuduga
Sudahlah sudahlah
Perempuan mana yang tak lalai bertanya
Jika ditinggal tanpa berita

Lagi-lagi perempuan...
Jika marah,  diam tanpa kata
Jika salah,  mencari kemana-mana

Dan kau prianya,
Masih kunanti di sudut jendela
Mungkin datang tiba-tiba
Bertanya pada mama di bawah sana
"Dimana dia? "

Sudahlah,  sudahlah

Sintang, 09 Juli 2017



Kamis, 18 Mei 2017


UNTUK SEORANG LAKI-LAKI

Syairku berbisik dalam sepi
Tentang remah- remah pagi kulewati tiap hari
Harum seperti teh pagi ini
Memikat hati bak lelaki dalam misteri

Aku mengagumi secercah raut rupawan
Mencoba mengumpulkan setiap kenangan yang menawan
Ada gegar yang terus bergema dalam raga
Ada getar yang terus bergaung dalam jiwa
Aku mengintip lagi lewat lubang di hati
Lelakiku tetap gagah di ruang sepi
Entah termangu dalam tanya atau teracun dalam tawa?

Semenit waktu dia berlalu,
Berlari kencang dan laju,
Membalik tubuh penuh pilu,
Mendekapku dengan malu.

Aku terengkuh dalam dekapan hangat,
Seperti lupa dengan yang empunya jagat,
Sedikit, pasti dan hangat kubalas dia rapat-rapat,
Serahkan bahu kuhilangkan penat.

Laki-laki hitam putih,
Tersenyum dengan perih,
Matanya binar
Senyumnya nanar
Berbisik dengan lugu
Aku rindu kamu.


Sintang,  18 Mei 2017
Evarista Dini Octavia

Rabu, 17 Mei 2017


Tertatih Dua Kali

Pernah suatu malam aku termenung
Dalam gelapku yang paling sunyi
Mengingat satu yang pernah mengisi relung
Dalam kenistaan bahasa hati

Pernah suatu malam dalam masa basa-basi
Aku merutuk sendiri pada kalbu
Yang kian tua masanya kian berapi
Membabi buta tak berpadu

Oh,  Tuan...
Bila habis sudah masaku kala itu
Akankah kau menangis pilu
Disamping ragaku yang diam membisu
Tak berbalik meski kau rengkuh

Baik pula rasanya kita berpisah
Meski tak kutahu siapa yang salah
Karena benciku meradang dalam resah
Mengingat setiap lakumu yang pasrah
Mengingat hidupmu yang tak berarah
Mengingat jiwamu yang kian lelah

Oh Tuan...
Jangan kau ingat lagi
Setiap kisah dalam elegi
Karena meski masih ada hati
Aku tak ingin tertatih lagi
Katakanlah kau masih peduli
Tapi perempuan mana yang mau dibohong dua kali?

Sintang,  17 Mei 2017
Evarista Dini Octavia

Selasa, 16 Mei 2017

SEPATAH KATA UNTUK PEMBACA

Sudah lama saya tidak menulis di blog.  Terhitung sejak 2010 saya menonaktifkan blog pertama saya yang isinya puisi dan cerpen.  Hal tersebut dikarenakan saya lupa password.

Sesungguhnya saya adalah penyair tanpa nama.  Tidak bermaksud publikasi,  hanya untuk memperlihatkan isyarat hati.  Kepada pembaca silahkan memaknai semua tulisan saya dengan positif.

Puisi adalah jiwa saya.  Meskipun saya tidak terlahir sebagai seniman ataupun sastrawan,  tetapi setiap rangkaian kata adalah indah di telinga saya,  terdengar merdu,  merdu sekali.  Saya menulis setiap hal sebagai wujud rasa syukur saya atas hidup,  wujud kekaguman pada semesta dan wujud cinta saya pada sang pemilik kehidupan.

Ada sudut tersembunyi dari hati yang kadang sulit diungkapkan langsung. Saya menulisnya dengan hati, menuangkannya dalam kanvas.

Selamat menikmati setiap kata penuh makna milik penyair tanpa nama.  Semoga semakin tinggi pula rasa syukur kita atas semesta yang tak pernah berdusta.

Sintang,  16 mei 2017
Evarista Dini Octavia

POEMS

CINTA ANOMALI

Sesungguhnya aku dicintai berkali- kali
Dengan amarah yang menjadi- jadi
Dengan perhatian tersembunyi.
Sesungguhnya aku dirindukan tiap hari, 
Dengan tatapan diam- diam,
Dengan cemburu yang dipendam.
Sesungguhnya aku tidak menyadari, 
Caramu mencintai sungguh anomali.


Sintang, 16 Mei 2017
Evarista Dini Octavia

Aku Tunggu Kamu Disini

Baru hari kesebelas bulan ini Langit terang benderang lagi Musim panas berlalu lebih cepat Ganti musim hujan yang merapat Ini purnama...